gejog

KARANGTALUN————-Thek-thok-thek-thok itulah suara tabuhan musik yang harmonis dihasilkan justru bukan dari sebuah alat musik. Alunan musik yang semarak ini dihasilkan oleh alat pemisah padi dengan kulitnya,  seolah menghasilkan harmonisasi yang unik. Pukulan yang dihasilkan oleh alu, sebuah kayu panjang untuk menumbuk padi, juga lesung, rongga kayu berbentuk seperti perahu panjang sebagai tempat padi yang ditumbuk, seni ini dinamakan gejog lesung, ini dilaksanakan dalam rangka untuk memeriahkan HUTRI ke 72 tahun 2017 di RW. VII Desa Karangtalun.

Gejog lesung merupakan permainan musik tradisional yang menggunakan alat pertanian Permainan gejog lesung sudah ada di kalangan petani sejak lama, kesenian ini juga kerap digunakan sebagai pengisi waktu luang para petani setelah seharian bekerja menumbuk padi. Gejog lesung dulunya memang digunakan oleh masyarakat sebagai alat untuk memisahkan padi dari tangkai dan kulitnya. Padi yang kering dimasukkan dalam lesung, kemudian ditumbuk dengan alu sehingga menimbulkan irama. Namun setelah berkembangnya alat penggiling padi yang semakin modern, maka gejog lesung saat ini berkembang menjadi kesenian musik tradisional.

Kesenian tradisional yang masih dapat ditemukan di desa-desa ini dimainkan secara beramai-ramai, terdiri dari lima atau enam orang yang menumbuk lesung. Gejog lesung dikenal hadir membawa keceriaan sejak dahulu. Permainan musik akustik petani ini dulunya juga kerap dimainkan saat malam bulan purnama, atau yang dikenal masyarakat sebagai malam terang bulan. Musik ini dipakai sebagai hiburan dan pengiring keceriaan anak-anak yang sedang bermain di halaman rumah.

Meski belum bisa dipastikan sejak kapan kebiasaan tabuhan lesung ini dimulai, namun konon, tradisi ini telah berlangsung sejak ratusan tahun silam. Namun esensinya kini telah berubah. Tak lagi terkait dengan mitos ataupun kepercayaan masyarakat, namun lebih pada fungsi hiburan, sebagai kesenian musik tradisional sekaligus sebagai upaya pelestarian seni dan tradisi.